AlGhazali berpandangan bahwa kaum sufi dapat menyaksikan hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh para ilmuan dan filosot. Para sufi menyaksikan sesuatu melaui nur yang dipancarkan tuhan kepada orang yang dikehendakinya. Nur itu adalah kunci ma'rifah. Ma'rifah yang sebenarnya menurut al-Ghazali, didapatkan melalui nur yang dipancarkan tuhan
a Etika Interaksi dan Tugas-tugas Guru Menurut Imam Al Ghazali Seorang guru yang baik menurut Imam Al Ghazali juga memiliki etika-etika khusus dan tugas-tugas sebagai berikut ; Tugas Pertama : Menunjukan kasih sayang kepada murid. dan memperlakukannya seperti anak sendiri." 5 Seorang guru harus memiliki kasih sayang kepada muridnya
Secaraumum, menurut Imam al-Ghazali, paling tidak seorang guru harus memiliki beberapa sifat, yaitu zuhud, ikhlas, suka memaafkan, memahami tabiat murid, berkepribadian yang bersih, bersikap sebagaimana bapak terhadap anaknya, dan menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi bidangnya, yang diberikan kepada murid.
EtikaInteraksi dan Tugas-tugas Guru Menurut Imam Al Ghazali Seorang guru yang baik menurut Imam Al Ghazali juga memiliki etika-etika khusus dan tugas-tugas sebagai berikut ; Tugas Pertama : Menunjukan kasih sayang kepada murid. dan memperlakukannya seperti anak sendiri." 5 Seorang guru harus memiliki kasih sayang kepada muridnya sebagaimana
ituilmu-ilmu juga untuk mengabdikan kepada Allah, yang oleh Al-Ghazali disebut ilmu muamalah.2 Deskripsi di atas memberikan suatu pengertian bahwa persepsi Al-Ghazali tentang ilmu tidaklah terpilah-pilah, artinya Al-Ghazali meletakkan satu pemahaman tentang hakekat ilmu dalam bentuk kesatuan teoritik yakni menjurus
ALHIKMAH Jilid 9 ISSN 1985-6822 2017M No. 2 1439 H • CABARAN BAGI GOLONGAN OKU PENGLIHATAN DALAM MELAKSANAKAN IBADAH SOLAT3-15 Nurul Asmak Liana Bakar • HIDUP BERKELUARGA MELALUI DIDIKAN AMALAN Q-ROHANI (AFEKTIF): SATU PENDEKATAN FUZZY DELPHI16-31 Zaharah Hussin, Ahmad Arifin Sapar, Saedah Siraj, Mohd Ridhuan Mohd Jamil, Abdul Muqsith
iamasuk ke sekolah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya; di sini gurunya adalah Yusuf An-Nasyji yang juga seorang sufi. 25 Selanjutnya Al-Ghazâlî meneruskan ke Naisabur untuk belajar kepada imam Al-Juwainî (478 H/1085 M), imam dari Haramain, salah seorang tokoh Asy'ariah. Di sana beliau mempelajari berbagai mazhab dan
ImamAl-Ghazali menekankan adab-adab makan kerana itu akan membentuk anak-anak. Ambil makanan dengan tangan kanan sahaja. Baca Bismillah sebelum makan. Ambil makan yang paling dekat dengan kita. Jangan berebut mengambil makanan sebelum orang lain. Jaga mata agar tidak melilau melihat makanan atau wajah orang lain yang sedang makan.
Dandi bulan Juli 1095 itu pula, tulisnya, ia 'melintasi batas kemauan bebas dan masuk ke dalam kendala (idtirār)'. Tuhan, kata al-Ghazali, 'mengunci lidahku', dan ia tak bisa mengajar. Kesehatannya memburuk. Para dokter tak tahu bagaimana mengobatinya. Mereka menyimpulkan bahwa sakitnya bukanlah gangguan jasmani.
Hikmahlapar. Renungkanlah nasihat dari Imam al-Ghazali. Ia menyebutkan, kelaparan yang diikuti dengan kesabaran dan kesadaran atas dosa-dosa. Itu akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Lapar, kata al-Ghazali, dapat menjernihkan hati dan pikiran. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menjadikan perutnya lapar, maka pikiran dan hatinya
jgiiq.