Iyaberterima kasihlah kepada Allah, sebab apa yang kamu dapatkan, apa yang kamu raih, dan apa yang kamu capai dalam hidupmu karena kebaikan-Nya. Sekali lagi, bukan dirimu yang hebat meski benar orang lain telah begitu mengagungkan kemampuanmu dalam segala hal, karena sejatinya yang hebat itu Allah yang telah membuatmu hebat.
Kalaubukan kita yang merubahnya lalu siapa lagi? Man Jadda Wa Jadda, Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Karena itu sukses bukan untuk orang hebat, melainkan untuk orang yang tepat, orang yang pantas untuk menerimanya. Untuk itu dengan rasa tanpa menggurui aku mengajakmu untuk memantaskan diri, bukan hanya memantaskan kepada apa yang kamu inginkan tapi juga memantaskan diri kepadaNya Sang pemilik alam semesta.
Bukanaku yang hebat Tapi Allah yang tutup aibku Bukan aku yang kuat Tapi Allah yang mudahkan Bukan aku yang mampu Tapi Allah yang menolongku Bukan aku yang pintar Tapi Allah yang beri pemahaman Tanpa Allah Jika bukan karena Allah Aku lemah HALAMAN : 1 2 LIHAT SEMUA Mohon tunggu Lihat Puisi Selengkapnya Beri Komentar
Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintai, agar sedihpun tidak berlebihan" "Aku berhijab bukan karena pandai ilmu agama, tapi aku berhijab karena mentaati perintah Allah" "Apapun profesimu syukuri nikmati dan jalankan tugasmu dengan ikhlas"
Ketikaaku bukan kebahagiaan, salahku yang pasti membuat orang menjauh. Ketika aku bukan kekuatan, semestinya aku sadar tak akan ada yang bisa mengua Aku Bukan Hebat - Kompasiana.com
AlhamdulilahTerima kasih ya allah. Semua keberhasilan ini atas izin mu. Bukan aku yang hebat, tapi allah yang memudahkan 🙏 Back to For You Alhamdulilah Terima kasih ya allah. Semua keberhasilan ini atas izin mu. Bukan aku yang hebat, tapi allah yang memudahkan 🙏 suara asli - Anirotulhafita initopel Anirotulhafita · 5-24 Follow Log in to comment
Kalauanda hendak jadi benar-benar manusia yang hebat, cemerlang dan disayangi semua orang, maka sentiasalah menjadi seorang pemaaf. Sebelum tidur, maafkanlah orang di sekeliling anda.Kita beri kemudahan pada mereka dan in shaa Allah, Allah akan mudahkan segala urusan kita. Percayalah! ^__^ Reply Delete
Musapun keheranan, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia." Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun." Musa berkata, "Ya Allah Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
AkuBukan Hebat Aku bukan hebat.. tapi tolong la jangan pandang rendah . dengan kebolehan aku.. ko buat seolah2 aku xde fungsi.. lg semua ni.. hnya sbb xjalankan amanah dgn baik.. kalo ko rse ko hebat, gantikan tmpat aku aku rela berundur diri.. aku begini bukan kehendak aku sendiri.. kalo x dipikirkan tanggungjawab, aku pon xwujud
Islamitu artinya berserah diri, tunduk, dan patuh. Muslim artinya orang yang tunduk. Tunduk bukan kepada hawa nafsu, tapi kepada Allah. Materialistis sekali bila kita hanya bicara tentang untung rugi. Kita bukan kaum yang abai dengan Tuhan, keimanan, dan aspek-aspek spiritual lainnya.
A703MCD. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang terbatas. Sebab itu dalam kehidupannya ia sering kali diperhadapkan dengan berbagai peristiwa atau tantangan di dunia ini, baik itu pengalaman suka maupun pengalaman duka. Diperhadapkan pada situasi yang demikian membuat manusia sering kali banyak mengeluh, banyak marah, menyerah, dan bahkan bisa sampai pada sikap skeptis dan menyalahkan Tuhan. Itu artinya manusia dalam hidupnya masih sangat minim perihal bersyukur pada Tuhan atas segala anugerah yang telah diberikanNya. “Bukan aku yang kuat, tetapi Tuhanlah yang Mempermudah” menjadi salah satu tema permenungan yang sangat baik untuk direfleksikan sebagai tanda ungkapan syukur kita pada Tuhan atas penyelenggaraanNya dalam kehidupan kita manusia hingga saat ini. Dalam Kitab Yesaya 4029 berbunyi “Dia memberikan kekuatan kepada yang lemah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya”. Hal ini haruslah menjadi warta gembira bagi kita manusia sebab bahwa Tuhan sama sekali tidak meninggalkan kita, atau membiarkan kita jatuh pada kelemahan kita. Ia bahkan mendampingi kita, menambahkan kekuatan kepada kita untuk dapat melewati setiap persoalan atau pergumulan yang kerap kali dijumpai dalam kehidupan kita ini. Sebagai seorang Kristen sejati tentunya kita harus sangat bersyukur pada Tuhan atas kasih sayangNya yang telah Ia berikan kepada kita. Perikop di atas mengajarkan kepada kita bahwa di saat manusia melakukan suatu perbuatan atau menggapai suatu prestasi, pertama-tama yang harus kita sadari bahwa pada hakikatnya semua hal itu bukan disebabkan karena kita manusia adalah orang yang hebat, tetapi karena Tuhanlah yang telah berkenan dan memberikan kemudahan kepada kita semua. Tuhan menuntun kita sampai pada titik terbaik di mana Tuhan menghendaki itu bagi kita. Sebab itu, situasi jatuh, kalah, gagal seharusnya tidaklah dipandang sebagai sebuah hukuman yang dinyatakan Tuhan dalam kehidupan kita. Kegagalan atau pengalaman terpuruk mestinya dipandang sebagai suatu ujian dari Tuhan pada kita. Karena itu kenalilah diri kita lebih dalam, sadari setiap kelemahan dalam diri kita, karena justru demikian kita akan menjadi manusia yang sempurna di dalam Kristus Tuhan. Ia hanya meminta kita untuk percaya pada setiap rancanganNya, karena Dia adalah jalan kebenaran dan kehidupan. Setiap orang yang berpegang kepadaNya akan menjadi kuat, karena Tuhanlah yang mempermudah. Terima kasih Tuhan untuk penyertaan yang telah Kau berikan dalam kehidupanku. Fr. Albertus Ranbasar
Aku bisa bukan karena aku hebat tapi karena Allah memampukan Aku bisa bukan karena aku hebat tapi karena Allah memberi pertolongan Aku bisa bukan karena aku hebat tapi karena Allah mengijinkan Ketika aku beruntung, itu adalah karunia dari Allah Ketika aku selamat, itu adalah perlindungan dari Allah Ketika aku bahagia, itu adalah limpahan rahmat dari Allah Ketika aku berhasil, itu adalah rejeki dari Allah Saat aku gagal, itu adalah cara Allah untuk membuatku lebih belajar Saat aku mendapat cobaan, itu adalah cara Allah untuk membuatku kuat Saat aku sedih, itu adalah cara Allah mengingatkanku untuk syukur dan sabar Saat aku mendapat musibah, bisa jadi itu sudah menjadi takdir. Bisa jadi pula itu adalah kelalaianku. Saat aku merasa kehilangan, itu adalah pengingat dari Allah bahwa tak ada satu hal yg abadi. Bahwa semua adalah milikNya, dan akan kembali padaNya. Springfield, 28 November 2018 Post navigation
Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu ala nabiyyinaa Muhammad, wa ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsaan, wa ba’ zaman Nabi Musa alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul.Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al Ariifi, hal. 42Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…***Penulis Abu Yazid T. Muhammad Nurdin Artikel Alumnus dan mantan pengajar Ma'had Al Ilmy Yogyakarta, pernah bermulazamah dengan Syaikh Abdul Karim bin Sa'ad Asy Syawway di Riyadh, alumnus Fakultas Syari'ah Univ. Islam Muhammad bin Su'ud, Riyadh, staf pengajar PP Tunas Ilmu, Purbalingga, pimpinan PP An Naba', Kalibagor, Banyumas